Suara burung pipit ditambah dengan hembusan angin membuat taman sekolah itu terlihat tenang. Lalu, terlihat seorang anak manis berambut biru laut yang ada di dekat taman menyapaku yang sedang membaca sesuatu.
“Hai, Yume!” sapa Gita.
“Ah, hai juga.” Balasku sambil membuka surat.
“Ke kantin, yuk!” ajak Gita.
“Tunggu sebentar. Tinggal satu surat lagi.” Ujatku sambil membaca sura itu.
“Hari ini dapat berapa?” tanya Gita.
“Cuma dua puluh.” Jawabku.
“Ya sudah! Ayo bacanya di kantin saja!” seru Gota sambil menarik tanganku menuju kantin.
Saat di kantin, puluhan murid memenuhi kantin itu. Aku dan sahabatku pun memilih makanan dan duduk di tempat yang paling dekat dengan taman di kantin itu.
“Yume, kau ingin makan apa?” Tanya Gita.
“Aku cukup hamburger saja.” Jawabku.
“Oh ya. Kata ayahmu, kau ingin pindah sekolah saat kelas lima, ya?” Tanya Gita sambil memesan makanan yang di inginkannya.
“Iya. Tapi, aku akan membangkang. Karena aku tidak ingin berpisah denganmu. Hanya kau teman terbaikku.” Jawabku sambil duduk di meja makan di kantin sekolah yang paling jauh.
“Hihi. Kau tidak perlu sampai seperti itu Yume.” Ujar Gita sambil tertawa kecil.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Aku juga akan ikut denganmu. Orang tuaku dan orang tuamu setuju, tuh. Jadi, kau tidak perlu lagi membangkang.” Jawab Gita sambil meminum minuman soda.
“Eh? Yang benar?” tanyaku.
“Tentu saja.” Jawab Gita sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
“Syukurlah kalau begitu.” Ujarku sambil memakan hamburgerku.
“Oh ya. Sekolahnya ada dimana, ya? Aku belum diberitahu orang tuaku.” Tanya Gita.
“Oh, kau mau tahu?” tanyaku.
“Ya iyalah! Kalau aku tidak tahu, itu tidak akan menyanangkan.” Jawab Gita.
“Aku yakin kau pasti akan kaget.” Ujarku sambil meminum orange juice.
“Ayolah, dimana sekolahnya?” Tanya Gita penasaran.
“Nama sekolahnya adalah Seiyo Elementary School.” Jawabku sambil kembali memakan hamburgerku.
“Apa???!!!!” tanya Gita tidak percaya.
“Hei, hei. Tidak perlu sampai berteriak seperti itu, kan? Sudah kuduga kau akan kaget.” Ujarku.
“Wah, aku benar-benar terkejut.” Ujar Gita.
“Ya, sudah. Lanjutkan saja makan siangnya. Setelah ini ada pelajaran olahraga, kan?” tanyaku.
“Ah, iya. Katanya mingu depan akan diadakan pertandingan olahraga, ya?” tanya Gita.
“Iya.” Jawabku.
“Wah, wah. Ku harap aku bisa satu tim denganmu.” Tukas Gita.
“Tidak. Kita pasti akan satu tim. Percayalah padaku.” Ujarku sambil memakan hamburgerku.
Selesai kami menyantap makan siang kami, kami pun bergegas menuju ruang ganti pakaian untuk mengganti pakaian.
“Duh, Yume! Bisa kau ikatkan rambutku? Rambutku ini panjang sekali. Susah diatur.” Pinta Gita.
“Rambutku juga pajang. Tapi bisa kuatur.” Ujarku sambil menguikat rambutku yang lebih panjang daripada Gita.
“Aku tahu, aku tahu. Rambutmu itu di juluki Gold Hair karena warna rambutmu yang alami berwarna emas. Tapi bantulah aku! Aku kan sahabatmu, ya?” mohon Gita.
“Baiklah, Luna! Ayo ikat rambut Gita.” Perintahku kepada robot miniku, Luna.
“Haha. Terima kasih, Yume. Kau memang sahabatku.’ Ujar Gita.
“Ya, sama-sama.” Balasku.
“Tugas selesai.” Kata Luna.
“Wah, wah. Perusahaan ayahmu memang hebat! Robot mini keluaran terbaru, ya?” tanya Gita sambil memandangi Luna.
“Iya. Ini keluaran terbaru. Baru kemarin robot Luna yang pertama selesai. Dan ini yang kedua.” Jawabku sambil kembali memasukkan Luna kedalam handbag ku.
“Wah, kenapa kau pakai handbag saat pelajaran olahraga?” tanya Gita.
“Penitipan handbag kan ada di gerbang lapangan.” Jawabku.
“Ah, iya, ya.” ujar Gita.
“Sudahlah. Ambil saja lagi. Aku tunggu. Lagipula, sebenarnya jadwal yang benar itu jam tiga sore. Sekarang masih jam dua tiga puluh menit. Cepatlah ambil. Aku tunggu di depan halaman. Dan, jangan lupa untuk membawa member school card nya. Kau sering lupa membawanya.” Pesanku.
“Baiklah.” Balas Gita sambil kembali menuju lokernya.
Saat di gerbang lapangan olahraga, angin yang berhembus kencang pun membuat lapangan dogde ball itu berdebu karena butir-butir pasir yang terbawa olah angin itu.
“Nah, kau sudah siap, Gita?” tanyaku sambil menggesek member school card dan masuk ke lapangan.
“Yup! Aku siap kapan saja.” Jawab Gita.
“Yume! Ayo kemari!” sapa Reika.
“Ah, ayo Gita!” ajakku sambil berlari menuju teman sekelasku.
“Oh ya. Kali ini timnya gabungan, kan?” tanya Reika.
“Yup! Jadi, kali ini anak perempuan akan melawan anak laki-laki.” Jawab Gita.
“Haha! Jadi nggak sabar! Aku ingin melawan anak laki-laki dan kmembuktikan kalau anak perempuan juga tidak kalah dalam olahraga!” seru Ayase.
“Kau kan tomboy. Wajar saja kalau banyak pengikutnya.” Ujar Reika.
“Tapi, kurasa bukan hanya Ayase saja yang punya pengikut.” Ujar Gita sambil melirikku.
“Ah, iya! Yume juga punya banyak pengikut.” Lanjut Reika.
“Karena dia sama sepertiku, kan?” tanya Ayase sambil melirikku dengan pernuh arti.
“Hei, hei. Kalian ini, seharusnya kalian latihan. Kenapa malah ngobrol. Ayo latihan! Waktu untuk melawan anak laki-laki tinggal sedikit lagi.” Perintah Yukari Sensei sambil memukul kepala kami semua menggunakan sctick punisher.
“Baiklah, Sensei.” Balas kami sambil berlari menuju lapangan dogde ball.
Beberapa menit kemudian, suara headset kami semua berbunyi. Itu adalah tanda kalau kami semua diperintahkan untuk berkumpul dan bertanding.
“Ayo kita mulai pertandinganya, semua.” Ajak Tomoe Sensei.
Setelah beberapa jam kemudian, kami pun berhasil memenangkan permainan dengan skor 20-0(20 buat anak perempuan, 0 buat anak laki-laki. Haha! Payah banget)
“Tim murid perempuan berhasil menguasai!” seru Yukari Sensei sambil meloncat-loncat kegirangan.
“You get a call for your dad.” Suara di headset ku berbunyi dan segera aku menjawabnya.
“Ya, ayah. Silahkan bertanya. Sat ini pelajaran olahraga.” Ujarku.
“Sehabis pelajaran olahraga tidak ada pelajaran lainnya, kan?” tanya ayahku.
“Ya, ayah.” Jawabku.
“Kalau begitu, sehabis pulang sekolah kau dan Gita akan melihat-lihat sekolah baru kalian.” Kata ayah sambil menutup pembicaraan kami.
“Bersiaplah setelah kau sudah beres-beres di lokermu Gita. Kita akan mengadakan tur yang luar biasa menurutmu.” Perintahku.
“Oke! Kalau begitu ayo kita cepat-cepat!!!” seru Gita dengan semangatnya sambil berlari menuju gerbang lapangan olahraga untuk mengambil barang yang dititipkan.
“Untung saka aku tidak bilang kalau kita ke sana. Kalau ku bilang, anak itu akan pingsan.” Gumamku dalam hati.
“Yume! Ayo cepat!” seru Gita sambil menarik tanganku dan kemudian berlari.
“Usami Chan, bisa kau kembalikan handbag ku?” tanyaku di penitipan barang.
“Ini! Cepat bawa handbag mu beserta robotnya! Aku tidak mau kauu menitipkannya lagi!” jawab Usami sambil melemparnya kepadaku.
“Maaf atas kelakuan Luna. Luna ku program untuk hanya ada di dekatku. Tapi, karena aku tidak ingin diomeli, makanya aku nekat untuk menitipkannya. Maaf ya.” Ujarku sambil meununduk(ini kebiasaan keluargaku jika ingin meminta maaf) dan kemudian memakai handbag ku kembali.
“Makanya program ulang sikap robotmu yang menyebalkan itu agar tidak merusak data ku.” Nasihat Usami sambil memperbaiki datanya yang rusak.
“Datanya bisa diselamatkan?” tanyaku.
“Kau kira mudah? Tentu saja kemungkinan selamatnya hanya 50 persen tahu.” Jawab Usami.
“Hah, Luna! Perbaiki datanya! Dan juga kau harus minta maaf pasa USami Chan karena telah merusaknya!” perintahku.
“Maafkan aku.” Ujar Luna sambil memperbaiki data Usami.
“Sudah selesai?” tanya Gita.
“Dia tidak akan menjawab.” Jawabku.
“Luna hebat, ya! Punya partner seperti Yume! Bikin iri, deh.” puji Gita.
“Data telah selesai diperbaiki.” Ujar Luna.
“Terima kasih.” Ujar Usami.
“Sama-sama.” Balasku sambil tersenyum kepada Usami.
Saat kami berada di dekat gerbang sekolah, pelayan ku pun mendekatiku dan mengajak kami untuk melihat-lihat sekolah baru kami.
“Hime Yume, ini saatnya anda untuk melihat sekolah baru anda.” Ujar pelayanku yang bernama Ruruka.
“Ah, baik.” Balasku.
Suara mobil mewah yang kami tumpangi itu pun segera menuju lokasi yang kami ingin tuju. Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di sekolah baru itu, Seiyo Elementary School. Gerbang sekolah yang sangat indah dan artistik itu pun menyambut kami.
Setelah aku dan Gita telah puas melihat-lihat sekolah itu, kami pun pulang ke rumah kami masing-masing.
“Hime Yume, saatnya mengganti pakaian anda.” Kata Ruruka.
“Baiklah.” Balasku sambil mengikuti Ruruka dari belakang.
Setelah aku menganti pakaianku, aku pun langsung menuju ruang makan. Sepi, tidak ada satu anggota keluarga pun yang ada kecuali aku di ruang makan. Pemandangan sehari-hari yang selalu kualami sudah membuatku menjadi tidak punya perasaan.
“Ayah dan ibu tidak makan malan di rumah?” tanyaku.
“Ayah dan ibu anda sedang menghadiri acara pelelangan.” Jawab Ruruka.
“Oh, begitu.” Balasku yang kemudian memakan makan malam hari ini tanpa seorang pun anggota keluargaku di sini.
“You get a call from Gita.” Suara di handphone ku pun berbunyi. Aku kemudian memasang headset ku.
“Ada apa, Gita?” tanyaku.
“Ah, be, begini. A, aku, ingin betemu denganmu.” Jawab Gita gelagapan.
“Oke. Kapan kita bertemu?” tanyaku.
“Hari Sabtu jam dua belas siang. Jangan sampai telat, ya!” seru Gita sambil menutup pembicaraanku dengannya.
“You get a call for your dad.” Bunyi dari headset ku pun kembali berbunyi. Dan aku langsung menjawabnya.
“Ada apa, yah?” tanyaku.
“Matikan program Luna!” Perintah ayahku.
“A, a, apa yang ayah katakan?!” tanyaku bingung bercampur ketakutan.
“Luna di seluruh dunia dikendalikan oleh sesuatu! Sekarang yang lain sedang mencari siapa yang mengendalikannya! Cepatlah! Ayah takut kalau kendalinya bisa mencapai Luna milikmu!” perintah ayah.
“Ah, ba, baiklah, yah.” Jawabku sambil menutup pembicaraan kami dan kemudian langsung mencari Luna.
Saat aku menemukannya, Luna tersenyum kepadaku sebagai tanda kesetiannya. Karena melihat senyumannya inilah, aku jadi tidak ingin mematikan programnya. Karena, hanya Luna lah yang selalu menghiburku dan membuatku bahagia.
“Ada apa, Yume Chan?” tanya Luna sambil mengelus rambutku yang berwarna oranye keemasan itu.
“A, aku tidak mau mematikanmu! Tidak mau!” seruku sambil menangis dan memeluk Luna.
“Oh, aku juga mendapatkan perintah itu dari jaringan pusat. Kau harus mematikanku, Yume. Aku tidak ingin melukaimu. Aku janji aku akan terus bersamamu. Tapi bukan sekarang.” Perintah Luna.
“Tidak akan. Aku, aku, aku tidak mau mematikanmu! Kau satu-satunya orang yang mau melakukan apapun untukku. Kumohon, jangan paksa aku. Biarpun aku akan mati sekalipun, aku hanya ingin mati denganmu! Kumohon, jangan mematikan sendiri mesinmu!” isakku.
“Maaf, Yume. Ini demi kebaikanmu.” Ujar Luna sambil mendorongku agak keras.
“Tidak, tidak, kumohon jangan matikan programmu, Luna! Aku, aku akan mencari siapa yang membuat onar ini! Tapi kumo ….” Aku tidak melanjutkan kata-kataku karena aku dipukul cukup keras oleh Luna.
“Selamat tinggal, Yume Chan. Aku akan tetap bersamamu selamanya.” ucapan selamat tinggal dari Luna pun menjadi kata-kata terkahirnya untukku. Saat itu, Luna mematikan programnya.
“Hime Yume?! Anda tidak apa-apa?” tanya Ruruka cemas sambil menggendongku menuju tempat tidur.
“Ru, Ruruka. Ku mohon jangan buang Luna. Luna sangat berarti u,untukku.” Mohonku sambil mengangis.
“Baiklah. Tapi Hi …” belum selesai Ruruka berkata, aku sudah memotongnya.
“Jangan panggiol aku Hime Yume lagi, Ruruka. Tolong panggil aku Yume Chan.” Perintahku dengan lemas.
“Baiklah, Yume Chan.” Balas Ruruka sambil menyelimutiku.
Esoknya, angin pagi ditambah dengan kicauan burung membuatku terbangun dari tidurku. Tapi, ada satu faktor lagi yang membuatku terbangun.
“Yume Chan! Ayo bangun!” seru Gita sambil membuka selimutku.
“Ngh, sampai kapan kau mau membangunkanku seperti ini, Gita?” tanyaku sambil bangun.
“Aku ingin membicarakan yang kemarin!” jawab Gita.
“Bukannya hari Sabtu?” tanyaku heran.
“Soalnya kelamaan! Jadinya, aku ingin ngomong sekarang!” jawab Gita semangat.
“Ya sudah. Apa yang ingin kau katakan?” tanyaku.
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan!” jawab Gita.
“Oh, jadi itu. Tapi, kenapa saat kau menelponku, suaramu terbata-bata?” tanyaku.
“Haha! Itu aku sedang bermain peran dengan kakakku.” Jawab Gita.
“Tapi, daripada jalan-jalan, kau mau menemaniku untuk membuat sesuatu?” ajakku.
“Oke!” balas Gita.
Beberapa menit kemudian, setelah aku bersiap-siap, aku dan Gita mulai membuat sesuatu.
“Kau benar-benar mau di bunuh oleh ayahmu, ya?” tanya Gita agak takut.
“Aku memang ingin di bunuh.” Jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku.
Setelah beberapa jam kemudian, sebuah “makhluk hidup” yyang kubuat sendiri dengan bantuan Gita pun selesai.
“Nah, sekarang kita uji coba, ya!” seru ku senang.
“Hm, tapi aku tidak yakin dengan temuanmu, Yume.” Ujar Gita.
“Kalau tidak yakin, kau hancurkan saja milikmu.” Kataku cuek.
“Eh? Mana mungkin ku hancurkan!” tukas Gita.
“Makanya kita uji coba.” Kataku.
“Memory Card nya mana?” tanya Gita.
“Ini.” Jawabku sambil menyerahkan sebuah memory card untuknya.
“Nah, sekarang kita uji coba!” seru Gita.
Enam bulan kemudian, saat kami naik ke kelas lima …
“Yume, apa kita beritahu saja ciptaan kita?” tanya Gita.
“Oke. Boleh juga katamu. Biar ayah tahu kalau aku juga tidak kalah hebat dari ayah yang seorang pencipta juga.” Jawabku semangat.
“Kalau begitu, kita beritahu saja saat pidato. Kita sama-sama perwakilan kelas, kan?” usul Gita.
“Seperti biasa ide-ide yang ada di kepalamu itu luar biasa.” Pujiku.
“Haha. Tidak juga.” Balas Gita.
“Untuk perwakilan kelas lima yang baru, Yume Shirohige dan Gita Hojo Shin Kyomori dipersilahkan untuk memberikan pidatonya.” Umum kepaa sekolah.
Aku dan Gita pun maju ke podium secara perlahan-lahan. Setelah sampai, kami pun membari kata sambutan. Setelah itu, kami pun langsung member tahu rahasia yang selama ini hanya diketahui oleh aku dan Gita.
“Sebelum saya dan sahabat saya, Gita. Saya dan Gita ingin memberitahu sebuah rahasia yang selama ini hanya di ketahui oleh saya dan Gita saja.” Ucapku.
Spontan saja seluruh orang yang hadir termasuk yang menonton dari televisi langsung penasaran. Termasuk kedua orang tua ku dan Gita.
“Kami sebenarnya membuat sebuah teknologi baru yang mungkin tidak akan pernah bisa di kendalikan oleh siapapun kecuali pemiliknya sendiri.” Lanjut Gita.
“Aku mendapat ide ini karena pengalamanku yang sangat pahit enam bulan yang lalu.” Kataku.
“Dan aku membantunya.” Sambung Gita.
“Teknologi ini berbeda karena seperti “makhluk hidup”. Teknologi ini juga dipengaruhi oleh cita-cita setiap pemiliknya. Mereka akan menjadi apapun yang di inginkan. Maka itu, karena kami sudah tidak ingin menyembunyikan “makhluk hidup” ini terus, kami akan memberitahukannya sekarang.” Ucapku penuh keyakinan.
“Oke! Sekarang aku dan Yume akan memberitahukan seperti apa “makhluk hidup” yang cute ini!” seru gita senang.
“Shugojin gerbang bintang pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima, terbuka!” seruku sambil menggesekan lima kartu yang berbeda motifnya.
Saat itulah, tiba-tiba muncul lima “makhluk hidup” seperti peri.
“Aku juga tidak mau ketinggalan. Shugojin gerbang bintang pertama, terbuka!” seru Gita.
Semua orang tercengang melihat enam “peri” ada di dekat kami.
“Inilah yang kami maksud, semuanya. Kami berdua menamainya Yume No Shugo Rei. Sebenarnya aku tidak setuju ada namaku di dalamnya. Tapi, karena satu faktor kami berdua memasukkan namaku. Tapi kalian hanya perlu menyebutnya dengan nama shugojin.” Kataku sambil menunjuk salah satu dari shugojin.
Sementara itu, di pohon dekat jendela di gedung pertemuan …
“Akhirnya anak itu mulai menunjukkan kemampuannya.” Ujar seseorang.
“Aku akan mengikutimu saja.” Balas seorang anak laki-laki yang ada di atas pohon itu.
“Aku harus memaksanya untuk membantuku.” Kata seorang anak perempuan.
“Tapi dia punya dendam dengan kita.” Ujar anak laki-laki itu.
“Aku yakin dia akan membantuku.” Bantah anak perempuan itu.
“Terserah kau saja.” Ujar lelaki itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar